Selasa, 22 November 2011

MENEMBUS KEYAKINAN



kebahagian yang terbit dari dalam jiwa
mebuat orang merasa angkuh dari keinginanya
terkadang menyulitkan keadaan orang lain
bila terus berlalu akan merusak keteguhan yang memadai
jiwa hanyalah sandaran kebahagiaan namun keyakinan
akan menunjukkan arah menuju singgasana langit
kepedulianku kepada arah mata hatiku

yang selalu menunutunku ke dalam surga hatiku
ketenanganku membuka lebar sayap sang KUASA
memberi kedamaian bukan keramaian
melewati pintu rahasia diri ini
mengarungi samudra hati ini
tak kan menoleh ke arah mata angin nafsu
kekuatanku adalah keyakinanku untuk mati
mati untuk bertindak kejalan yang bejat
akhir dari matiku akan hidup kekokohan diri yang permadani
bersinar melewati sinar matahari
menerangi planet hati yang murni

karya..
Miftah Ranggaloa

Minggu, 20 November 2011

BAGIAN EMPAT


BERTEMU DESY

“Ya Desy, tepatnya Desy Kurniasari, gadis yang telah mengisi ruang dalam hati Fatih Anggara akhir-akhir ini, semenjak mereka berdua saling mengenal di lorong studio radio” (BAGIAN SATU)….
Fatih tiba radio kampus itu sejak pukul 09.45,  karena malu Fatih duduk didepan lorong studio radio, sesekali ia bernyanyi, sesekali ia berdiam diri,  20 menit kemudian…
 pintu terbuka dan seorang wanita datang menghampirinya…
hai…. kamu Fatih Anggara….?
fatih tak langsung menjawab… “dia terpukau”….
hai… kamu Fatih Anggara kan??.....
ha, ii.. iya,  kok…. tak sempat melanjutkan pembicaraannya wanita itu menyahut
iya aku tahu, ibu Resti yang kasih tahu ke aq kemarin…
oo…
sini masuk…
fatih mengikuti wanita itu dari belakang dan memasuki ruang diskusi….
didalam ruangan telah berkumpul crew2 Batik fm, kebutulan mereka baru akan mulai diskusi…
belum sempat duduk fatih diperkenalkan oleh perempuan berkacamata itu kepada crew lainnya…
ow ya temen2 ada anggota baru disini dan ini orangnya… namanya Fatih Anggara dia mahasiswa jurusan komunikasi…
untuk selengkapnya biar dia mengenalkan dirinya…

fatih memperkenalkan dirinya…. dan mereka menyambut dengan senyuman…. fatih pun ikut rapat pertamanya bersama temen2 barunya disana… ia tak terlalu memperhatikan rapat yang sedang berlangsung yang dia perhatikan hanya sosok putih dibalik hitam (wanita berkerudung) disampingnya…
“suara hati bergerumun” Aq pernah melihat wanita ini, tapi dmna ya… mukanya tak asing dikepalaku…
tapi dimana ya,,,??
“mencoba memutar kembali data yang sudah terekam di otaknya”
sekarang aku ingat… dia kan wanita yang tak sengaja aku tabrak waktu di jalan cempaka dulu… tapi apakah dia ingat sama kejadian dulu…?? Mudah-mudahan ajj dia gag ingat… Aamiin….
dari sumber suara, fatih dipanggil…
fatihhhh…. fatihh….
sssttt… dipanggil ntuw sama GM (General Manager)… suara bisikan dari belakang,,
s,, ss,, saya….
iya kamu….
fatih menghadap ke GM dan duduk disebelah kanannya..
Nah… kamu sekarang sudah jadi salah satu dari keluarga Batik fm, disini kita semua keluarga tak memandang dari mana ia datang, dari jurusan mana, dan dari suku mana… kamu sekarang dapat tugas dilapangan sebagai reporter….
fatih melongo’….
siaap….
ss..siap…
jawab fatih
ya udah rapat hari ini kita tutup….
waduhhhh…. reporter??? mati aku…
aku kan tak tahu reporter kayak gmna….
mampus aku… haaght…
kenapa aku terima ya… bisa gawat ney….
selamat ya… kamu jadi anggota dari kami
iya… thankz….
hei tunggu dulu… namamu siapa
panggil ajj aku Desy…

lanjut di bagian lima>>>>
by.
 Miftah Ranggaloa

SENYUMAN DI PAGI ITU


kala senja datang menghampiri hidupmu
dalam kesunyian aku merangkak mendekati indahnya bola matamu
terasa pagi kian membisu
kau lontarkan senyuman mempesona
membasuh mukaku yang lusuh
kau hadir dengan kemenangan untukku
menembus batas pikiran
terbawa dalam buaian khayalan
semilir angin merasuki sukmaku
titisan embun merekah membasahi seluruh jiwaku
kau hadir begitu menawan dipagi itu
meleburkan hati yang kosong….

Mifatah Ranggaloa

CAHAYA HATIKU


Aq telah memutuskan
untuk menulis sebuah nama 
nama yang terukir indah dalam lubuk hati ini
untukmu cahaya hatiku...

karya. Miftah Ranggaloa


Selasa, 15 November 2011

BAGIAN TIGA



MELEPASKAN HARU



         Seiring bumi berputar dengan poros horizontal, fatih telah melepaskan haru, dan doa mengalir disetiap waktunya kepada sang nenek yang telah bernostalgia bersama Tuhan….
Sejuk kembali menyapa hari-harinya, membangun kebahagiaan yang lama dia tinggalkan, mengambil hikmah dari kepergian nenek tersayang 3 bulan yang lalu, melampaui batas bulan dan tahun… sekarang hidup bukan untuk merasakan hidup dalam kehidupan, melainkan hidup untuk merasakan hidup dalam kematian…
         tatapan matanya kini menyorot keteguhan, tubuh mulai menaruh harapan terhadap otak dan hati, gelombang rasa mulai teratur, pasang surut kehidupan mulai dicermati dengan makna indah berseri, kehilangan bukan suatu hambatan, itulah yang menjadi arahan bagi kompas dalam dirinya….
bagaimana semua ini bisa merubah segala beban dijiwamu? bertanya Adi pada fatih disebuah Angkringan favorit mereka….
        “Entahlah. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu hatiku, dan seolah dia datang sebagai penenang dalam jiwa,” jawab fatih sambil menggambarkan sosok perempuan misterius. “Siapakah dia wahai saudaraku, apakah aku mengenali dia?” Adi penasaran,,
Fatih menoleh sohibnya itu, memberi senyuman hangat sehangat teh hangat menemani mereka dipagi hari.
“Kadang kita berfikir dan menduga, apa yang belum menjadi milik kita telah mebuat kita bahagia” fatih melanjutkan pembicaraannya. “bener tuch….. hehe, tapi apa masudnya ya… Aku malah bingung fat”, “hahahaha…… Adi… Adi…. kamu hanya perlu merasakannya…” mereka berdua pun tertawa riang...
“Pak berapa semuanya, sekalian sama teman saya yang lagi kemabukan….. hehe….” sahut Adi kepada penjual….
         mereka beranjak dari Angkringan kecil di pojok gang deket kost Fatih.
Dalam perjalanan Adi juga menceritakan tentang kisah cintanya bersama Mery, Mery merupakan seorang wanita yang ramah, dia tidak kuliah melainkan kerja pada salah satu perusahaan yang ada di Jateng (Jawa Tengah), gadis lembut itu adalah tetangganya Adi di kampung.
Apabila Adi pulang ke kampung nyaris mereka tidak pernah bertemu, hanya mampu menahan rindu yang mendalam, dalam benaknya ingin melawan segala keegoisan ortunya namun apalah daya dia hanya mampu terpaku terbius oleh alur pikiran yang berbeda.
***
        Semua mata tertuju padaku,,, mengapa begini… apa ada yang salah denganku?, sehingga mereka melemparkan senyuman ke arahku…. fatih bertanya dalam hati…
kemana aja si lho baru kelihatan, futsalan gag pernah hadir, ada masalah apa cuy,,, pria berambut gondrong menghampirinya, fatih mulai mengetahui mengapa mereka melihatnya seserius gtu sambil tersenyum, iya menjawab “gag kemana-mana, ada dikost… kamu aja yang gag main-main kekostq..”, Jangan gitu lah brow… kita harus banyak latihan futsal ney,, soalnya sekitar 2 minggu lagi kita akan ikut POK (Pekan Olahraga Kampus). iya juga ce…  fatih menjawab dengan singkat…. Ow ya Aq ada urusan sebentar sama Ibu Restiana….
         Fatih mengetuk pintu ruangan Ibu Restiana, yang merupakan Ketua jurusan komunikasi,,, Assalmua ‘alaikum…. Wa’alaikum salam, silahkan masuk.. tutur ibu berkacamata tipis dari dalam ruangan… ya duduk fatih… kamu tahu kenapa ibu memanggilmu ke ruangan Ibu?, belum tahu bu’, ada apa gerangan ibu’ memanggil saya? begini fat, udah dua tahun kamu disini, Ibu kepingin kamu ikut meramaikan dan mengabdi untuk Radio kampus…, gmana fat, kamu mau? ibu sudah bilang keteman-teman di Radio untuk menerima dan menjadikan kamu bagian dari mereka, supaya ilmu yang kamu dapat bisa bermanfaat?... kalau masalah itu, saya senang sekali bu’, dari dulu saya kepingin merasakan indahnya menjadi bagian dari Radio bu’, untuk menyalurkan hobby saya… terima kasih sekali bu’,,,,, Iya sama-sama besok pagi jam 10 kamu langsung kesana ya….? Baik bu’…
       Sepulangnya dari Ruangan ibu Ana,Fatih pun mengukir kata-kata dilubuk hati “Ini adalah kesempatan yang tidak datang kedua kalinya, selama ini aku hanya mendengar ocehan manis lewat gelombang suara melalui radiasi, Akhirnya…. terimaksih Ya Allah, Kau Maha segalanya,,, memberi musibah supaya kami sadar akan kebesaranMU, kemudian kau Berikan Hidayah bagi kami…..”
***
Nantikan kisah selanjutnya di BAGIAN EMPAT.........
by. Miftah Ranggaloa

Minggu, 13 November 2011

CERPEN AJA


200 (DUA RATUS) PERAK PUN JADI RENUNGAN
Hari ini tanggal 23 juli 2011, tepatnya hari sabtu pukul 05.45, suara lantunan lagu gita gutawa membangunkan aku dari tidurku, bukan nada alarm melainkan nada panggilan masuk ke handpone ku, ku usap kedua mataku dan kuperbaiki pita suaraku supaya terdengar normal pada saat aku bicara dengannya.
suara hp terus mengiang di telingaku, ku ambil hp itu di samping kepalaku depan komputer, sungguh aku terperanjat dari tempat tidurku yang beralaskan kasur tipis berwarna biru dengan bantal yang lusuh tanpa pengaman, ku pencet tombol hijau tanda aku menerima obrolan darinya, aku kesulitan memasang earphone, maklumlah hp itu sangat sulit berhubungan dengan earphon entah mengapa, “entar dulu saya pakakaikan earphone” sahut saya pada penelpon, setelah terpakai, terdengar suara lantang, keras dan tegas mengarah ketelingaku bak penguasa yunani sedang memarahi prajuritnya yang lemah, “kenapa kamu suruh aku telephone kamu, ada apa?” aku menjawab dengan rasa ketakutan “anu,,,, uang semesteran, daftar ulang” dia melanjutkan masih dengan nada tinggi “berapa biaya heregistrasinya ? tanggal berapa terakhir” aku pun menjawab dengan nada melemah “600 ribu, tanggal 28 juli” dia mengakhiri obrolannya “ow iyora (ow, iya dah dalam bahasa bima, NTB)” masih dengan suara lantang.
Dia mengakhiri pembicaraannya tanpa salam pembuka maupun penutup, menurutku itu bukan pembicaraan pantas, melainkan tanya jawab pintas. yach emang tanya jawab pintas yang membuat aku sakit hati dan bertanya dalam diri “apa salahku, hingga dia melantangkan suaranya”, aku merasa bagai di marahi langsung oleh Tuhan, mengapa tidak, suara itu adalah suara yang telah lama ku kenal semenjak aku di lahirkan hingga aku berada di rantauan sekarang. suara hatiku masih menggumam “apa dia tak pernah mengerti aku ? apa aku selalu menyusahkannya dari dulu hingga saat ini ? aku tak mengerti mengapa ini terjadi ? biasanya dia bersuara lembut dan tegas, tapi kali ini apa yang kurasakan telah melukai hatiku” aku berdoa di dalam hati “ya Allah ya Tuhanku berilah aku keikhlasan dan ketabahan dalam menghadapi semua ini”.
Aku bergegas ke belakang untuk berwudlhu’ dan melaksanakan ibadah shalat shubuh di kamar kecil berukuran 2X3 meter, kupasrahkan diri kepadaNya dan memulai bacaan istigfar selesai shalat sebagai awal dzikir bagiku, ku lanjutkan dalam hening doa bercahayakan lampu kuning di atas kepala, mengawali dengan memuji_Nya dan memohon ampun kepada_Nya “ya Allah, apakah ini syarat_Mu untukku, maka berilah aku keikhlasan dan ketulusan hati, amien….” menutupnya dengan mengharapkan keselamatan dunia dan akhirat atas Kuasa_Nya, amien ya Rabbal alamin.
Terasa seperti hantaman ombak di pagi buta, itulah kesedihan yang aku rasakan disaat aku kembali terseret di tumpukan kapas beralas membuat sekujur tubuh memanas dan kepala, kaki tangan bagai berada di dalam lapas, ku tebarkan seluruh keadaan hati yang terkibas melewati jari-jemari di atas, mengisi lembaran putih yang terlintas, tak peduli hati mulai mengeras.
Matahari menunjukkan dirinya diluar sana, aku belum terperanjak dari baringanku dengan dua telapak tangan di atas kepala, aku bingung apa yang harus aku lakukan di pagi ini, aku terpaku di sini semenjak ujian akhir semester bubar kurang lebih tiga minggu yang lalu, tak tahu apa yang harus aku lakukan biasanya aku main playstation di komputer untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan, karena stiknya telah rusak, aku mulai merasa jenuh berkepanjangan, gak tahu apa ini bisa bertahan soalnya itu hobby aku semenjak aku masih di bangku Sekolah Dasar, Cuma bedanya dulu masih menyewa di rental, dan rela bolos sekolah saat SMA gara-gara kebelet main PS2 di samping gang sekolah padahal aku sebagai ketua kelas harus bertanggung jawab atas teman-teman sekelasnya bila tak gurunya tak datang waktu itu.
Bener-bener tak bisa beranjak kemana-mana, mau beli stik duit tinggal 200 perak di meja belajar samping komputer, beli apa pun yang mengenyangkan tak mungkin dapat melainkan dua buah permen, sudah satu hari 200 perak itu di samping galon, selama seminggu aku hanya makan satu kali sehari kadang di waktu sore, kadangpula di waktu malam yah itu semua langkah irit, namun tak juga bisa bertahan sampai akhir bulan.
Tambah pula penderitaanku bila aku ingat kembali peristiwa dua minggu yang lalu, berawal aku beranjak dari kamarku menuju kamar mandi untuk ambil air sembahyang di waktu maghrib, selama lima menit lamanya aku memasuki kamar, tapi perasaan ini tak tenang dan heran “mengapa ada jejak sepatu di kamarku, perasaan ini kan waktu libur tak mungkin ini sepatuku” kataku sambil terkejut, “ada yang gak wajar nih, tapi apa ya” ungkapku sambil menatapi kearah jejak sepatu itu, maklumlah ruangan tempatku berteduh itu, lantainya berkeramik putih. Wajar kalau jejak sepatu terkena debu bisa kelihatan dan nampak disana. Aku bertanya-tanya “ada apa ya?” setelah ku sadar dan ku palingkan pandanganku ke arah komputer tepatnya di samping bawah komputer “Ya Allah mengapa ini terjadi?” HP dan dompetku raib di ambil pencuri gelandangan yang tak bermoral dan tak berperasaan, “padahal uangnya hanya 45.000 rupiah” tapi yang tak dapat saya terima kehilangan semua yang berharga dan surat-surat penting di dalam dompet (KTP, KTM, ATM, SIM, Surat keterangan pembayaran kost, dsb), “lenyap sudah, dasar pencuri kenapa tak ambil uang dan hp saja, kenapa harus bersama dompetnya” makiku terhadap pencuri yang tak tahu dimana dia buang dompetku.
Ini bukan pertama kali aku kehilangan sesuatu. Hp yang pertama kali aku miliki jatuh ditengah jalan dan setelah ku cari lagi hpku telah menghilang tanpa jejak, yang kedua aku kehilangan sepedaku setelah memasuki masjid al-iman Ambarukmo untuk shalat berjemaah di waktu dzuhur dan ini merupakan yang ketiga dengan kehilangan kedua barang secara serenatak, nasib ya nasib…… Aku telah mengikhlaskannya, aku yakin Allah punya tujuan tertentu bagiku, maka di setiap doaku tak lupa aku berdoa untuk diberi ketulusan, kejujuran, ketabahan hati serta keikhlasan dalam menjalani hidup.
Hari ini perut terasa kenyang walaupun sebenarnya kering kerontang aku telah berjanji untuk puasa hari ini, entah puasa apa namanya tepatnya puasa 200 perak, kedengarannya lucu, ya emang inilah adanya tak tahu apa yang diperbuat oleh 200 perak ini untuk berbuka entar maghrib, aku berharap ada keajaiban datang, siapa tahu !.
Kemarin makan nasi tempe sebagai sahurnya di waktu siang sepulangku dari jumatan, kebetulan masih sisa 3.000 rupiah dalam himpitan baju di lemari untuk makan, dan 200 perak di pojok atas lemari yang kupindah keatas meja belajar sampai sekarang masih kupandangi dia, dia terus ku pandangi karena hanya 200 perak itu yang luput dari pandangan pencuri, sebagai saksi bisu kepergian sahabantnya, sekarang aku hanya bisa tersenyum, orang tuaku entah menyayangiku atau tidak, sehingga tiada pergerakan hatinya untuk mengirimiku uang ala kadarnya saja.
mana mungkin aku bisa pulang kampung dengan 200 perak
mana mungkin aku bisa bukaan buat puasa dengan 200 perak
mana mungkin aku bisa menyalin ceritaku ini dengan 200 perak
200 perak ini hanya mungkin kupandangi terus menerus
Aku bisa saja berkhayal dengan 200 perak itu sebagai orang kaya, andaiakan aku hidup di dzaman penjajahan bahkan purbakala sekaligus, tapi apa semua itu berlaku di masa itu sedangkan alat penukarnya masih barteran dan setelah itu alat penukarannya adalah uang yang masih memakai logam berbolong di tengahnya, layaknya film laga yang sering aku lihat dulu di layar kaca waktu SD, seperti kisah Wiro Sableng maupun Dendam Nyi Pelet.
ya sudahlah, seperti penggalan nyanyian bondan prakoso & fade to black…..
mungkinkah, sebagaimana yang sering di lantunkan oleh andre taulany di OVJ
kita lihat aja nanti, layaknya ungkapakan adelia dan rosyid di ujung kisah 3 Hati 2 Dunia 1 cinta
200 perak pun jadi renungan, ya itulah kata tepat untukku saat ini.

by. Miftah Ranggaloa

Jumat, 11 November 2011

BAGIAN DUA

AWAL JUMPA
bumi berhias berdandan elok nan indah, semilir angin mengantarkan kesejukan bagi alam, ditemani pelangi dan embun kesegaran, lemah gemulai mentari tersipu malu menyapaku dibalik punggung gunung keteguhan, tanda pagi menampakkan dirinya…
kebisingan kesisibukan mulai terdengar diluar dengan berbagai macam ocehan yang terekam telinga, membangunkanku dari kerlap-kerlip dunia mimpi, terhela nafas panjang dan kuusap kedua bola mataku… tak sempat berdiri kusetel radio keluaran 96 milik kakakku yang telah diwariskan untukku sejak lima tahun yang lalu, walaupun radio itu merupakan radio butut tapi dia mampu bertahan sampai sekarang, tepatnya tanggal 12 november 2009 dan selalu setia mengawali pagiku setiap harinya, aku bersandar dalam sayu merobohkan diri sejenak diirngi alunan lagu-lagu penguasa jiwa,,,
“hai pagi yang cerah untuk memulai aktifitas kamu dalam semenanjung rindu”. Suara yang merdu mengantarkan rangkaian Tanya dalam benak ini siapakah kau wahai gadis pemilik suara….???
***
fat…. fat…. fat…. terdengar teriakan panggilan dari luar pintu kamar melepaskan konsentrasi yang baru saja dia bangun…. fatih merasa terganggu dan begitu was-was sehingga bergegas mengambil baju di atas lemari dekat pajangan foto kedua orang tuanya,… iya.. tunggu sebentar... masuk ada apa Jul, suara mu keras… malu didengar tetangga kamar sebelah,,, dengan nafas yang tersendat-sendat Jul mulai bercerita… a’’nu…a’’anu…. ngomong yang jelas biar aq tahu… jul menarik nafasnya dan menghempaskannya, anu… aq dapat kabar dari kampung halaman kita, kabar apa,,, fatih mulai tak tenang dan panik…. nenekmu telah tiada,,, ya nenekmu meninggal…. fatih terdiam tak menyangka neneknya telah pergi meninggalkannya….  dan mengucapkan Innalillahi Wa inna ilaihi raji’un,… Ya Allah Ya Tuhanku jika ini merupakan ujian untukku dan keluargaku,, hamba Mu ikhlas menerimanya…
Fatih mulai teringat masa bersama neneknya dikampung halaman Bima Nusa Tenggara Barat, dari kecil sampai iya duduk dibangku SMA, neneknyalah yang setia merawat dan mengayomi kasih sayang untuknya, maka tak heran jika dia sangat terpukul atas kabar yang diterimanya pagi itu bagaikan sambaran petir hinggap merobohkan pepohonan yang berdiri kokoh selama ribuan tahun lamanya….
seorang nenek dengan keakraban melebihi ibunya sendiri, apalagi bila neneknya memasakkan sayur asam ikan teri kesukaanya, tiada yang bisa menandingi kehebatan masakan neneknya dengan resep turun temurun memanjakan lidah keluarga setiap harinya…
fatih merangkak galau menghampiri, hanya meraba tanpa menyentuh, takkan mampu mengarungi tiga pulau secepat menghitung jari-jemari…
jarum jam tak pernah diam sejenak untuk menunggu ketertinggalan fatih dari waktu, dan begitu kejam sehingga membuat fatih selalu termenung dalam tangis… tiga jam telah berlalu fatih masih termenung,, akhirnya Jul tak tega melihat temanya menderita dan mencoba menenangkan hatinya tanpa menyakiti perasaanya,,, Fat… sudahlah Allah telah mengatur semua yang ada dilangit maupun dibumi.. ini bukti Allah sayang sama kamu fat…, kalau Allah sayang sama aku mana mungkin Dia mengambil nenek yang sangat aku cintai…, Allah tidak adil sama aku,,, Allah tidak sayang sama aku… “hentaknya meliputi nusbi, seakan tak saying padanya”…
karena merasa suasana hati fatih lagi tak menentu,,, Jul meninggalkannya sendiri di kamar.. fatih pun tertidur kembali disertai kepedihan yang amat mendalam….
***
Langit mulai meredup, tiada bercahaya lagi, mengiringi buramnya hati fatih di sore hari, menutup jubah keharmonian yang terbentang mengusik matahari, tiada kicauan burung, tiada pelangi,…
fatih berjalan menelusuri jalan dengan hati gundah dan merundukkan kepalanya,… tiba-tiba,,, BRUGHT… fatih menabrak seorang gadis didepannya, gadis itu tidak menghiraukan pemuda bertubuh kecil itu menabraknya karena gadis berkacamata itu lagi menunggu temannya di pinggir jl. Cempaka,.. fatih mengangkat kepala sejenak dan menatap sekilas wajah gadis itu,  tatapan sekilas itulah yang terekam dalam memori otaknya.
Fatih kembali meneruskan langkahnya menuju kampus. Kampus yang berada di tengah-tengah keramaian kota Yogyakarta, uniknya disebelah kiri terdapat sungai yang mengalir indah tanpa sampah, bagus untuk mencari ispirasi, Universitas Harapan Bangsa berdiri kokoh pepohonan mengelilinginya memberi kesejukan kecuali didepannya jalan besar yang mengarah ke bandara dan pusat pernak-pernik perbelanjaan yang istimewa siapa yang tak kenal dengan keistimewaan malioboro….
meski dosen berdiri dan mulutnya telah berbusa memberi mata kuliah sinematografi, tetap saja raut wajahnya linglung hampa dalam kelas… seorang teman mulai berbisik dan menanyakan keadaan miftah yang terlihat begitu gundah,,,
fat… fat… fat…. kamu kenapa…? kamu sehatkan…?
gag papa,, hanya kurang enak badan…
kamu sakit ya… kalau sakit jangan masuk kuliah to fat…
Aku baik2 aja kok….
jangan maksa gitu deh jadi orang, gag baik.. kesehatan itu lebih penting fat…
fatih kembali membisu sambil memerhatikan dosen, entah apa dia benar-benar perhatikan atau masih terbawa emosi atas kematian neneknya….
***
matahari telah terbenam, kini siang menjadi penantian kembali, mengapa semuanya begini, hanya Tuhan yang Maha Tahu….
Assalamu alaikum… dia datang lagi kali ini dikostnya fatih, teman yang menanyakan keadaan fatih tadi sore, pria berawak tinggi, badan agak kurus lunglai, mata sipit berkacamata… namanya Tri jayadi, sebuah nama mudah diingat dan dihafal karena persis dengan nama salah satu stasiun radio yang ada di Yogyakarta…
kok gelap... Adi bertanya dalam hati sambil meraih saklar yang ada di samping kanan pintu…. Adi tahu persis kamarnya Fatih karena mereka berdua adalah teman dekat saling melengkapi kekurangan layaknya seorang kakak-beradik yang dilahirkan sebagai anak kembar…
fat… jangan nangis, aku ini sahabatmu… sahabat itu layaknya handpone dan kartu perdana… ceritalah pada sohib mu ini….
Fatih menceritakan kabar yang dia dapatkan tadi pagi kepada Adi sambil menahan tangisan dan menyimpannya erat dalam hati…..
hmmm…. begitu… yang sabar fat… di balik ini semua pasti ada hikmahnya untuk kita terutama untuk kamu……
***
suara Adzan berkumandang dibalik bilik marmer kamar, menyapa kembali kuping fatih di waktu shubuh, dalam shalat fatih berbicara pada Sang Khaliq, melantunkan panjatan doa dari mulut yang berdesis…..
Ya Allah aku sadar kamulah yang Maha mengetahui…
Kamulah Raja diatas raja-raja….
aku tahu Engkau sayang padaku, pada hamba-Mu ini….
maka berilah kasih sayang untukku,,,
berilah ketabahan untukku untuk orang tuaku, saudaraku, umat muslim dan muslimat…
aku tahu Engkau Maha Pengampun….
maka ampunilah dosaku
dosa alm. nenekku,, berilah penerangan dikuburnya…
selamatkanlah dia dari siksa kuburnya disana…
aku merintih dihadapan-Mu Ya Rabbi……

Karya....
,,,,Miftah Ranggaloa......>>>
Bersambung>>>>

Kamis, 10 November 2011

BAGIAN PERTAMA

DALAM OBROLAN

Malam telah larut menggantikan segala kebimbangan menjadi hayalan yang selalu ternaungi awan pekat di atas sana....
namun bulan dan bintang dapat menerangi semua angan2 yang kubayangkan....
terpaku disini di depan layar yang menggerutu
menghanyutkan segala kesibukan yang telah ku buang tadi sore
kusapa seorang teman di balik ketikan yang baku
menyapa dengan ramah dan penuh senyuman
bagai semenanjung gibraltar
yang tersenyum menyambut pasukan tariq bin ziyad....
bagai suara penyiar yang tersenyum menyapa pendengar…
seperti kamu di waktu tersenyum
bersama canda di ruang siaran....
itulah yang bisa ku tuliskan untukmu dalam obralan yang damai.....

hai… Fatih menyapa seorang gadis dalam obrolan di ruang yang terhimpit oleh bebatuan dalam tegak, gadis yang tak asing lagi dalam ingatannya belakangan ini… gadis yang ramah dan membawa senyuman, meski tak ada yang dapat menghiburnya di waktu sedih…
gadis itu menyambut fatih dengan senyuman, Hanya senyuman namun menyejukkan hati, membawa ke dalam suasana bersahaja..
fatih mulai melanjutkan obrolan, dalam basa-basi aneh, padahal mereka sudah saling mengenal sebelumnya… lam knal ya dari aq..............
gadis itu mulai tertawa dalam kesendirian, entah apa yang membuatnya tertawa, mungkin karena fatih terlalu lugu menanyakan hal yang tak terlintas dalam benaknya.
fatih bergumam dalam hati bersama malam, Gadis yang menawan melewati kecanggungan, gadis berparas ayu melebihi pesona putri indonesia,, hmmmm Sungguh indah CiptaanMu ya Tuhanku….  hentakan pertengkaran kucing dan tikus diloteng kamar fatih menyadarkannya dalam lamunan,,,, Astagfirullah hampir saja saya melupakan obrolan bersama Desy… kasihan desy sudah nunggu lama di sana… ungkapnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi melebihi tingginya gunung jaya wijaya di papua…
Ya Desy, tepatnya Desy Kurniasari, gadis yang telah mengisi ruang dalam hati Fatih Anggara akhir-akhir ini, semenjak mereka berdua saling mengenal di lorong studio radio,….
Udah lama ya,, fatih meneruskan obrolan yang sempat tertahan 
lama??? lama apanya?? desy kebingungan… maklumlah Desy tidak terlalu menghiraukan obrolan karena dia sedang mengerjakan tugas yang diberikan dosen untuknya.
Kebetulan desy seorang mahasiswa jurusan management di salah satu perguruan tinggi negeri wilayah yogyakarta satu fakultas dengan fatih yang mengambil jurusan komunikasi, namun di kampus mereka jarang bertemu bahkan tidak bertemu sama sekali, maklumlah banyaknya mahasiswa dan bedanya jurusan yang membuat keadaan jadi seperti itu.
emmm… gag.. ga apa-apa kok… fatih menutupi wajahnya memakai bantal mencoba menahan malu, dan berkata “untung saja dia jauh disana, coba dia lihat muka ini pasti….. ach ya sudahlah”…
tiba-tiba senyuman kembali menyapa fatih dalam renungan, bukan hanya senyuman tapi di sertai tawa…. fatih pun melontarkan pertanyaan….
Kok ketawa emangnya ada yang lucu ya….
Hmmmmm…. abis kamu kaku kayak mumi di mesir,, aneh……
“kok dia bisa tahu kalau aku kaku…. daripada penasaran mendingan aku tanya aja sama orangnya”
Emangnya kamu tahu darimana kalau aku kaku
Ya tahu lah fat…. alx kelihatan dari ketikanmu…. hehehe…..
Melihat desy ketawa, fatih mulai merasa diperhatiin dan mencoba menghilangkan kecanggungan yang dirasakannya disaat menatap layar keras berukuran 14 inci… (dalam obrolan)…
kamu dimana hayooooooooooooo….  desy meruntuhkan suasana beku….
di kamar ney, di temenin secangkir kopi yang sengaja kubuat untuk kesunyian malam…
cie elah…. bahasanya kuareeen…. ajarin dunkz..
masa’ ce… kayaknya biasa….. hah kamu ini, emangnya aq guru
 ya gag… tapi aku rasa kamu punya bakat dwech….
bakat apa???
gag, coba Tanya hatimu…. udah dulu ya, aq mau tidur dah ngantuk…. bye…
eitz tunggu dulu….. fatih telat menahan desy untuk mengakhiri obrolan itu….
faith mengeluh “yah malah offline lagi, mungkin, bukan waktunya sekarang…”

Bulan semakin menjauh dari malam, membawa keresahan dalam lubuk hati fatih
keresahan terhadap perasaan yang membuatnya lemah merengkuh kembali segala kebimbangan…..


BERSAMBUNG>>> ke BAGIAN DUA>>> nantikan kisahnya.........


Karya....
......Miftah Ranggaloa......