AWAL JUMPA
bumi berhias berdandan elok nan indah, semilir angin mengantarkan kesejukan bagi alam, ditemani pelangi dan embun kesegaran, lemah gemulai mentari tersipu malu menyapaku dibalik punggung gunung keteguhan, tanda pagi menampakkan dirinya…
kebisingan kesisibukan mulai terdengar diluar dengan berbagai macam ocehan yang terekam telinga, membangunkanku dari kerlap-kerlip dunia mimpi, terhela nafas panjang dan kuusap kedua bola mataku… tak sempat berdiri kusetel radio keluaran 96 milik kakakku yang telah diwariskan untukku sejak lima tahun yang lalu, walaupun radio itu merupakan radio butut tapi dia mampu bertahan sampai sekarang, tepatnya tanggal 12 november 2009 dan selalu setia mengawali pagiku setiap harinya, aku bersandar dalam sayu merobohkan diri sejenak diirngi alunan lagu-lagu penguasa jiwa,,,
“hai pagi yang cerah untuk memulai aktifitas kamu dalam semenanjung rindu”. Suara yang merdu mengantarkan rangkaian Tanya dalam benak ini siapakah kau wahai gadis pemilik suara….???
***
fat…. fat…. fat…. terdengar teriakan panggilan dari luar pintu kamar melepaskan konsentrasi yang baru saja dia bangun…. fatih merasa terganggu dan begitu was-was sehingga bergegas mengambil baju di atas lemari dekat pajangan foto kedua orang tuanya,… iya.. tunggu sebentar... masuk ada apa Jul, suara mu keras… malu didengar tetangga kamar sebelah,,, dengan nafas yang tersendat-sendat Jul mulai bercerita… a’’nu…a’’anu…. ngomong yang jelas biar aq tahu… jul menarik nafasnya dan menghempaskannya, anu… aq dapat kabar dari kampung halaman kita, kabar apa,,, fatih mulai tak tenang dan panik…. nenekmu telah tiada,,, ya nenekmu meninggal…. fatih terdiam tak menyangka neneknya telah pergi meninggalkannya…. dan mengucapkan Innalillahi Wa inna ilaihi raji’un,… Ya Allah Ya Tuhanku jika ini merupakan ujian untukku dan keluargaku,, hamba Mu ikhlas menerimanya…
Fatih mulai teringat masa bersama neneknya dikampung halaman Bima Nusa Tenggara Barat, dari kecil sampai iya duduk dibangku SMA, neneknyalah yang setia merawat dan mengayomi kasih sayang untuknya, maka tak heran jika dia sangat terpukul atas kabar yang diterimanya pagi itu bagaikan sambaran petir hinggap merobohkan pepohonan yang berdiri kokoh selama ribuan tahun lamanya….
seorang nenek dengan keakraban melebihi ibunya sendiri, apalagi bila neneknya memasakkan sayur asam ikan teri kesukaanya, tiada yang bisa menandingi kehebatan masakan neneknya dengan resep turun temurun memanjakan lidah keluarga setiap harinya…
fatih merangkak galau menghampiri, hanya meraba tanpa menyentuh, takkan mampu mengarungi tiga pulau secepat menghitung jari-jemari…
jarum jam tak pernah diam sejenak untuk menunggu ketertinggalan fatih dari waktu, dan begitu kejam sehingga membuat fatih selalu termenung dalam tangis… tiga jam telah berlalu fatih masih termenung,, akhirnya Jul tak tega melihat temanya menderita dan mencoba menenangkan hatinya tanpa menyakiti perasaanya,,, Fat… sudahlah Allah telah mengatur semua yang ada dilangit maupun dibumi.. ini bukti Allah sayang sama kamu fat…, kalau Allah sayang sama aku mana mungkin Dia mengambil nenek yang sangat aku cintai…, Allah tidak adil sama aku,,, Allah tidak sayang sama aku… “hentaknya meliputi nusbi, seakan tak saying padanya”…
karena merasa suasana hati fatih lagi tak menentu,,, Jul meninggalkannya sendiri di kamar.. fatih pun tertidur kembali disertai kepedihan yang amat mendalam….
***
Langit mulai meredup, tiada bercahaya lagi, mengiringi buramnya hati fatih di sore hari, menutup jubah keharmonian yang terbentang mengusik matahari, tiada kicauan burung, tiada pelangi,…
fatih berjalan menelusuri jalan dengan hati gundah dan merundukkan kepalanya,… tiba-tiba,,, BRUGHT… fatih menabrak seorang gadis didepannya, gadis itu tidak menghiraukan pemuda bertubuh kecil itu menabraknya karena gadis berkacamata itu lagi menunggu temannya di pinggir jl. Cempaka,.. fatih mengangkat kepala sejenak dan menatap sekilas wajah gadis itu, tatapan sekilas itulah yang terekam dalam memori otaknya.
Fatih kembali meneruskan langkahnya menuju kampus. Kampus yang berada di tengah-tengah keramaian kota Yogyakarta, uniknya disebelah kiri terdapat sungai yang mengalir indah tanpa sampah, bagus untuk mencari ispirasi, Universitas Harapan Bangsa berdiri kokoh pepohonan mengelilinginya memberi kesejukan kecuali didepannya jalan besar yang mengarah ke bandara dan pusat pernak-pernik perbelanjaan yang istimewa siapa yang tak kenal dengan keistimewaan malioboro….
meski dosen berdiri dan mulutnya telah berbusa memberi mata kuliah sinematografi, tetap saja raut wajahnya linglung hampa dalam kelas… seorang teman mulai berbisik dan menanyakan keadaan miftah yang terlihat begitu gundah,,,
fat… fat… fat…. kamu kenapa…? kamu sehatkan…?
gag papa,, hanya kurang enak badan…
kamu sakit ya… kalau sakit jangan masuk kuliah to fat…
Aku baik2 aja kok….
jangan maksa gitu deh jadi orang, gag baik.. kesehatan itu lebih penting fat…
fatih kembali membisu sambil memerhatikan dosen, entah apa dia benar-benar perhatikan atau masih terbawa emosi atas kematian neneknya….
***
matahari telah terbenam, kini siang menjadi penantian kembali, mengapa semuanya begini, hanya Tuhan yang Maha Tahu….
Assalamu alaikum… dia datang lagi kali ini dikostnya fatih, teman yang menanyakan keadaan fatih tadi sore, pria berawak tinggi, badan agak kurus lunglai, mata sipit berkacamata… namanya Tri jayadi, sebuah nama mudah diingat dan dihafal karena persis dengan nama salah satu stasiun radio yang ada di Yogyakarta…
kok gelap... Adi bertanya dalam hati sambil meraih saklar yang ada di samping kanan pintu…. Adi tahu persis kamarnya Fatih karena mereka berdua adalah teman dekat saling melengkapi kekurangan layaknya seorang kakak-beradik yang dilahirkan sebagai anak kembar…
fat… jangan nangis, aku ini sahabatmu… sahabat itu layaknya handpone dan kartu perdana… ceritalah pada sohib mu ini….
Fatih menceritakan kabar yang dia dapatkan tadi pagi kepada Adi sambil menahan tangisan dan menyimpannya erat dalam hati…..
hmmm…. begitu… yang sabar fat… di balik ini semua pasti ada hikmahnya untuk kita terutama untuk kamu……
***
suara Adzan berkumandang dibalik bilik marmer kamar, menyapa kembali kuping fatih di waktu shubuh, dalam shalat fatih berbicara pada Sang Khaliq, melantunkan panjatan doa dari mulut yang berdesis…..
Ya Allah aku sadar kamulah yang Maha mengetahui…
Kamulah Raja diatas raja-raja….
aku tahu Engkau sayang padaku, pada hamba-Mu ini….
maka berilah kasih sayang untukku,,,
berilah ketabahan untukku untuk orang tuaku, saudaraku, umat muslim dan muslimat…
aku tahu Engkau Maha Pengampun….
maka ampunilah dosaku
dosa alm. nenekku,, berilah penerangan dikuburnya…
selamatkanlah dia dari siksa kuburnya disana…
aku merintih dihadapan-Mu Ya Rabbi……
Karya....
,,,,Miftah Ranggaloa......>>>
Bersambung>>>>