MELEPASKAN HARU
Seiring bumi berputar dengan
poros horizontal, fatih telah melepaskan haru, dan doa mengalir disetiap waktunya
kepada sang nenek yang telah bernostalgia bersama Tuhan….
Sejuk kembali menyapa hari-harinya, membangun kebahagiaan yang
lama dia tinggalkan, mengambil hikmah dari kepergian nenek tersayang 3 bulan
yang lalu, melampaui batas bulan dan tahun… sekarang hidup bukan untuk
merasakan hidup dalam kehidupan, melainkan hidup untuk merasakan hidup dalam
kematian…
tatapan matanya kini menyorot keteguhan, tubuh mulai menaruh
harapan terhadap otak dan hati, gelombang rasa mulai teratur, pasang surut
kehidupan mulai dicermati dengan makna indah berseri, kehilangan bukan suatu
hambatan, itulah yang menjadi arahan bagi kompas dalam dirinya….
bagaimana semua ini bisa merubah
segala beban dijiwamu? bertanya Adi pada fatih disebuah Angkringan favorit
mereka….
“Entahlah. Tiba-tiba seseorang
datang mengetuk pintu hatiku, dan seolah dia datang sebagai penenang dalam
jiwa,” jawab fatih sambil menggambarkan sosok perempuan misterius. “Siapakah
dia wahai saudaraku, apakah aku mengenali dia?” Adi penasaran,,
Fatih menoleh sohibnya itu,
memberi senyuman hangat sehangat teh hangat menemani mereka dipagi hari.
“Kadang kita berfikir dan
menduga, apa yang belum menjadi milik kita telah mebuat kita bahagia” fatih
melanjutkan pembicaraannya. “bener tuch….. hehe, tapi apa masudnya ya… Aku
malah bingung fat”, “hahahaha…… Adi… Adi…. kamu hanya perlu merasakannya…”
mereka berdua pun tertawa riang...
“Pak berapa semuanya, sekalian
sama teman saya yang lagi kemabukan….. hehe….” sahut Adi kepada penjual….
mereka beranjak dari Angkringan
kecil di pojok gang deket kost Fatih.
Dalam perjalanan Adi juga
menceritakan tentang kisah cintanya bersama Mery, Mery merupakan seorang wanita
yang ramah, dia tidak kuliah melainkan kerja pada salah satu perusahaan yang
ada di Jateng (Jawa Tengah), gadis lembut itu adalah tetangganya Adi di
kampung.
Apabila Adi pulang ke kampung
nyaris mereka tidak pernah bertemu, hanya mampu menahan rindu yang mendalam,
dalam benaknya ingin melawan segala keegoisan ortunya namun apalah daya dia
hanya mampu terpaku terbius oleh alur pikiran yang berbeda.
***
Semua mata
tertuju padaku,,, mengapa begini… apa ada yang salah denganku?, sehingga mereka
melemparkan senyuman ke arahku…. fatih bertanya dalam hati…
kemana aja
si lho baru kelihatan, futsalan gag pernah hadir, ada masalah apa cuy,,, pria
berambut gondrong menghampirinya, fatih mulai mengetahui mengapa mereka
melihatnya seserius gtu sambil tersenyum, iya menjawab “gag kemana-mana, ada
dikost… kamu aja yang gag main-main kekostq..”, Jangan gitu lah brow… kita
harus banyak latihan futsal ney,, soalnya sekitar 2 minggu lagi kita akan ikut
POK (Pekan Olahraga Kampus). iya juga ce… fatih menjawab dengan singkat…. Ow ya Aq ada
urusan sebentar sama Ibu Restiana….
Fatih
mengetuk pintu ruangan Ibu Restiana, yang merupakan Ketua jurusan komunikasi,,,
Assalmua ‘alaikum…. Wa’alaikum salam,
silahkan masuk.. tutur ibu berkacamata tipis dari dalam ruangan… ya duduk
fatih… kamu tahu kenapa ibu memanggilmu
ke ruangan Ibu?, belum tahu bu’, ada apa gerangan ibu’ memanggil saya? begini fat, udah dua tahun kamu disini, Ibu
kepingin kamu ikut meramaikan dan mengabdi untuk Radio kampus…, gmana fat, kamu
mau? ibu sudah bilang keteman-teman di Radio untuk menerima dan menjadikan kamu
bagian dari mereka, supaya ilmu yang kamu dapat bisa bermanfaat?... kalau
masalah itu, saya senang sekali bu’, dari dulu saya kepingin merasakan indahnya
menjadi bagian dari Radio bu’, untuk menyalurkan hobby saya… terima kasih
sekali bu’,,,,, Iya sama-sama besok pagi
jam 10 kamu langsung kesana ya….? Baik bu’…
Sepulangnya dari Ruangan ibu
Ana,Fatih pun mengukir kata-kata dilubuk hati “Ini adalah kesempatan yang tidak
datang kedua kalinya, selama ini aku hanya mendengar ocehan manis lewat
gelombang suara melalui radiasi, Akhirnya…. terimaksih Ya Allah, Kau Maha segalanya,,,
memberi musibah supaya kami sadar akan kebesaranMU, kemudian kau Berikan
Hidayah bagi kami…..”
***
Nantikan kisah selanjutnya di BAGIAN EMPAT.........
by. Miftah Ranggaloa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar