Selasa, 15 November 2011

BAGIAN TIGA



MELEPASKAN HARU



         Seiring bumi berputar dengan poros horizontal, fatih telah melepaskan haru, dan doa mengalir disetiap waktunya kepada sang nenek yang telah bernostalgia bersama Tuhan….
Sejuk kembali menyapa hari-harinya, membangun kebahagiaan yang lama dia tinggalkan, mengambil hikmah dari kepergian nenek tersayang 3 bulan yang lalu, melampaui batas bulan dan tahun… sekarang hidup bukan untuk merasakan hidup dalam kehidupan, melainkan hidup untuk merasakan hidup dalam kematian…
         tatapan matanya kini menyorot keteguhan, tubuh mulai menaruh harapan terhadap otak dan hati, gelombang rasa mulai teratur, pasang surut kehidupan mulai dicermati dengan makna indah berseri, kehilangan bukan suatu hambatan, itulah yang menjadi arahan bagi kompas dalam dirinya….
bagaimana semua ini bisa merubah segala beban dijiwamu? bertanya Adi pada fatih disebuah Angkringan favorit mereka….
        “Entahlah. Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu hatiku, dan seolah dia datang sebagai penenang dalam jiwa,” jawab fatih sambil menggambarkan sosok perempuan misterius. “Siapakah dia wahai saudaraku, apakah aku mengenali dia?” Adi penasaran,,
Fatih menoleh sohibnya itu, memberi senyuman hangat sehangat teh hangat menemani mereka dipagi hari.
“Kadang kita berfikir dan menduga, apa yang belum menjadi milik kita telah mebuat kita bahagia” fatih melanjutkan pembicaraannya. “bener tuch….. hehe, tapi apa masudnya ya… Aku malah bingung fat”, “hahahaha…… Adi… Adi…. kamu hanya perlu merasakannya…” mereka berdua pun tertawa riang...
“Pak berapa semuanya, sekalian sama teman saya yang lagi kemabukan….. hehe….” sahut Adi kepada penjual….
         mereka beranjak dari Angkringan kecil di pojok gang deket kost Fatih.
Dalam perjalanan Adi juga menceritakan tentang kisah cintanya bersama Mery, Mery merupakan seorang wanita yang ramah, dia tidak kuliah melainkan kerja pada salah satu perusahaan yang ada di Jateng (Jawa Tengah), gadis lembut itu adalah tetangganya Adi di kampung.
Apabila Adi pulang ke kampung nyaris mereka tidak pernah bertemu, hanya mampu menahan rindu yang mendalam, dalam benaknya ingin melawan segala keegoisan ortunya namun apalah daya dia hanya mampu terpaku terbius oleh alur pikiran yang berbeda.
***
        Semua mata tertuju padaku,,, mengapa begini… apa ada yang salah denganku?, sehingga mereka melemparkan senyuman ke arahku…. fatih bertanya dalam hati…
kemana aja si lho baru kelihatan, futsalan gag pernah hadir, ada masalah apa cuy,,, pria berambut gondrong menghampirinya, fatih mulai mengetahui mengapa mereka melihatnya seserius gtu sambil tersenyum, iya menjawab “gag kemana-mana, ada dikost… kamu aja yang gag main-main kekostq..”, Jangan gitu lah brow… kita harus banyak latihan futsal ney,, soalnya sekitar 2 minggu lagi kita akan ikut POK (Pekan Olahraga Kampus). iya juga ce…  fatih menjawab dengan singkat…. Ow ya Aq ada urusan sebentar sama Ibu Restiana….
         Fatih mengetuk pintu ruangan Ibu Restiana, yang merupakan Ketua jurusan komunikasi,,, Assalmua ‘alaikum…. Wa’alaikum salam, silahkan masuk.. tutur ibu berkacamata tipis dari dalam ruangan… ya duduk fatih… kamu tahu kenapa ibu memanggilmu ke ruangan Ibu?, belum tahu bu’, ada apa gerangan ibu’ memanggil saya? begini fat, udah dua tahun kamu disini, Ibu kepingin kamu ikut meramaikan dan mengabdi untuk Radio kampus…, gmana fat, kamu mau? ibu sudah bilang keteman-teman di Radio untuk menerima dan menjadikan kamu bagian dari mereka, supaya ilmu yang kamu dapat bisa bermanfaat?... kalau masalah itu, saya senang sekali bu’, dari dulu saya kepingin merasakan indahnya menjadi bagian dari Radio bu’, untuk menyalurkan hobby saya… terima kasih sekali bu’,,,,, Iya sama-sama besok pagi jam 10 kamu langsung kesana ya….? Baik bu’…
       Sepulangnya dari Ruangan ibu Ana,Fatih pun mengukir kata-kata dilubuk hati “Ini adalah kesempatan yang tidak datang kedua kalinya, selama ini aku hanya mendengar ocehan manis lewat gelombang suara melalui radiasi, Akhirnya…. terimaksih Ya Allah, Kau Maha segalanya,,, memberi musibah supaya kami sadar akan kebesaranMU, kemudian kau Berikan Hidayah bagi kami…..”
***
Nantikan kisah selanjutnya di BAGIAN EMPAT.........
by. Miftah Ranggaloa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar