Waktu terus berputar, hari pun
berlalu, fatih senang dengan keadaannya sekarang, setiap langkah terngiang
suara indah membisik ditelinganya mengganggu pikirannya terbawa angan, terbuai
asmara. Terkadang ia tersenyum polos melemahkan sekujur tubuh berkelana menata
bayang semu, melambai tangan meski tak ada yang menyapa….
Sungguh cinta begitu dekat dari hidupku….
sungguh rindu membuatku hayut dalam asmara…
sungguh cinta begitu hangat dalam jiwa…
sungguh rindu meratapi kesendirianku…..
sungguh cinta menggrogoti hatiku…..
sungguh rindu meresap dalam fikiranku….
sungguh kamu, kamu, kamu telah meracuni jiwa dan ragaku….
sungguh Engkau ya Allah memberiku cinta dan rindu dalam siang malamku…
maka jangan hapuskan rasa itu dariku…..
rasa cinta dan rindu yang Kau titipkan dari dia untukku….. Fatih membangun impian dalam hidup untuk dia (Desi) dalam syair
ketergantungan…. Raut muka berseri-seri terus mewarnai dirinya, fatih melangkah
menuju tempat perkumpulan yang telah menjadi rutinitasnya sebagai reporter….
dimana reporter harus mengedit dan mengolah berita yang telah didapatkan,
sebagai pemula fatih tak mahir dalam mengolah bahasa berita, oleh karena itu
perlu dampingan dari senior… kebetulan hari itu Desi tidak ada jadwal siaran
sehingga fatih dapat didampingi oleh desi untuk menulis berita….
==fatih membuka pembicaraan dengan menanyakan tentang dunia keradioan… Mba’… dunia radio itu seperti apa?
radio itu sama halnya seperti televisi yang merupakan bagian dari jurnalistik,
sebagai media penyiaran, namun beda radio sama televise itu adalah dari segi
khalayak pendengar yang tergantung dari frequensi daerah saja, dan radio itu
identik dengan music….
owh… gtu ya mba’…
satu lagi, berita radio bersifat sekilas dan langsung, jadi bahasa yang
digunakan dalam berita radio itu adalah bahasa yang mudah dimengerti oleh
khalayak, ow ya satu lagi….
apa lagi mba’ (penasaran)
jangan panggil aq mba’ panggil aja desy,,,, okey…..
owwwwww….. iyyy mba’ desy…. Upsss….. desy….. desy tesenyum… melihat keluguan dari
tingkah fatih….
fatih melanjutkan ketikannya….
sambil meneliliti desy menegur fatih…..
fat…. Dalam berita radio tidak boleh menggunakan kata “seharusnya, semestinya,
seandainya” tulisanmu yang ini diganti “oleh karena itu”…
iy mba’…etzzz… iy des… Nah…. Itu kan lebih enak kalau
nanti disiarkan….
terima kasih mba’…. (Upz…. Des….) “Lagi-lagi
aku salah menyebut” fatih menggumam….
ya sudah aq tinggal dulu…
iya des…… hmmmm…….”Alhamdulillah kali ini benar”….. hee…. Melalui percakapan sederhana,
mengungkapakan bahwa fatih menaruh hati pada seniornya yang berbibir tipis
merah merona bagai mawar yang baru merekah…
***
Fatih tak menghiraukan percakapan
orang-orang yang ada di warung BuRjo (bubur kacang ijo)… yang dia dengar
hanyalah percakapannya bersama desy di studio batik fm kemarin…. Mengapa hati ini resah tanpa
arah, yang aku rasakan dan terfikirkan di benakku hanyalah dia,.. apakah
mungkin aku mendapatkan dia sebagai kekasihku… bagaimana bisa aku menaruh hati
padanya, padahal aku baru mengenalnya,… ‘itupun’… arrrggghhhh… kok aku malah
memikirkannya… aku tak ingin terbawa hati ini lebih dalam… aku takut bila aku
tak bisa mendapatkannya…
….mas… mas… mas…
mas ini pesenannya udah….
iy… iy mas… makasih…
minumnya apa mas….
es the ajj….
hmmm… mendingan makan ajj lah… supaya tenang pikiranku…
Keikhlasan
merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya
yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu
anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan
bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula
perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah
(mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
keikhlasan
adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah
karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan
karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia),
bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi
di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh
manusia.
Ikhlas
?
Banyak para
ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana
hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari
dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam,
Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya,
Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama
lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun,
apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri?
Didalam beramal dianjurkan untuk selalu ikhlas karena ikhlas
sangatlah menentukan akan diterima atau tidaknya ibadah, tanpa keikhlasan maka
apa yang dilakukan akan menjadi sia-sia dan tidak ada nilainya disisi Allah
SWT. Allah SWT berfirman dalam QS.
Albayyinah : Artinya “Dan
tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus”. (QS. 98:5)
Dzin Nun Al-Mishri berkata dalam
Al-Adzkar beliau menyampaikan bahwasannya alamat atau tanda-tanda ikhlas itu
ada tiga hal : 1.
Kalau dipuji dan dihina oleh orang maka dia sama (biasa-biasa saja) Artinya orang yang ikhlas tandanya
kalau dia dipuji maka dia tidak merasa bangga atau bahkan besar kepala
dan sebaliknya ketika dihina diatidak merasa sakit hati atau bahkan menjadi
marah tidak sama sekali, dia biasa-biasa saja. 2. Kalau beramal tidak pernah
dingat-ingat Maksudnya orang yang ikhlas kalau
dia berbuat kebajikan maka dia lupa dan tidak pernah mengungkit atau mengingat
kembali apa yang telah dilakukan. Misal itu mesjid kalau bukan saya tidak
mungkin berdiri dengan perkataan begitu maka sia-sialah amal ibadahnya. 3. Mencari pahala amal
di akhirat Orang yang ikhlas itu orientasinya
akhirat karena dia yakin bahwa pahala dunia itu pasti akan didapat, maka yang
dicari adalah pahala akhirat.
Kesimpulanya bahwa ikhlas menurut
pendapat di atas adalah apabila melakukan suatu perbuatan ada makhluq atau
tidak ada, zhohir dan bathinnya sama saja, ada orang atau tidak ada orang biasa
saja, ada yang mengawasi atau tidak maka tidak gelisah, tidak merasa salah
tingkah ,tidak merasa diintai ataupun yang lainnya dan ikhlas adalah sirna dari
pandangan manusia dalam penyaksian Allah SWT. Ikhlas itu
membutuhkan latihan, semoga dengan ikhlas (memurnikan) niat karena Allah maka
amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan amal yang ikhlas itu akan
menjadi penerang dan teman bagi kita ketika didalam kubur nanti, aamiin ya
robbal ’alamiin. Hal Ikhlas
?
Sebagian
manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam
perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an ,
haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun keikhlasan harus ada pula dalam
amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum
terhadap saudaramu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudaramu,
engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudaramu barang yang dia
butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali
semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudaramu bukan karena agar
dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudaramu
agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun
akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai
orang yang pelit. Jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi
saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika
malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau
?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota
ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu
kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak,
hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat
itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan
kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai
saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah
hadits, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena
Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut.
Amal
Kecil menjadi Berkah Karena Ikhlas ?
Sesungguhnya
yang diwajibkan dalam amal perbuatan, bukanlah banyaknya amal namun tanpa
keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila melakukannya
ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari
amal perbuatan tersebut. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi
Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin,
Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
betapa
kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk
masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar
mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan,
kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia
pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing
tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Seorang
pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing,
betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah
mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia
tolong adalah seorang muslim? Dan sebaliknya, amal perbuatan yang besar
nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah
baginya.
Buah
dari Ikhlas
Seseorang
yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai
dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka
keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan
menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi
yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan
mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.”
(Qs. Shod: 82-83).
Buah lain
yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah
jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang
Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya
kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang
ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24).
Pada ayat
ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga
beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong
beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena
Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari
perbuatan maksiat. Apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam
perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim
atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri , maka introspeksi diri dan perbaikilah
niat, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita
termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
sahabat
telah memudar
saudara telah merenggang
kau sahabat dan kau saudara
Entah apa yang ada di belakang
aku bukanlah siang
aku bukanlah malam
aku berada diantara mereka
diantara sinar menawan sang mentari
diantara kelembutan sang rembulan
tiap hari mereka tersenyum dihadapanku
karena mereka adalah sahabatku
sahabat dalam layaran waktu
saudara dari rotasi bumiku
kupandangi mereka dalam kesendirian
begitu ramah nan mempesona
merengkuhku dalam kecemburuan
tanyaku dalam hari
sahabat apa kau telah memudar???
saudara apa kau telah merenggang???
apa kau masih sahabat dan
apa kau masih saudara???
Entah apa yang ada di belakang
wahai siang dan malam ???
ku harap engkau masih sahabat dan
engkau masih saudara dihariku