200
(DUA RATUS) PERAK PUN JADI RENUNGAN
Hari
ini tanggal 23 juli 2011, tepatnya hari sabtu pukul 05.45, suara lantunan lagu
gita gutawa membangunkan aku dari tidurku, bukan nada alarm melainkan nada
panggilan masuk ke handpone ku, ku usap kedua mataku dan kuperbaiki pita
suaraku supaya terdengar normal pada saat aku bicara dengannya.
suara
hp terus mengiang di telingaku, ku ambil hp itu di samping kepalaku depan
komputer, sungguh aku terperanjat dari tempat tidurku yang beralaskan kasur
tipis berwarna biru dengan bantal yang lusuh tanpa pengaman, ku pencet tombol
hijau tanda aku menerima obrolan darinya, aku kesulitan memasang earphone,
maklumlah hp itu sangat sulit berhubungan dengan earphon entah mengapa, “entar dulu saya pakakaikan earphone”
sahut saya pada penelpon, setelah terpakai, terdengar suara lantang, keras dan
tegas mengarah ketelingaku bak penguasa yunani sedang memarahi prajuritnya yang
lemah, “kenapa kamu suruh aku telephone
kamu, ada apa?” aku menjawab dengan rasa ketakutan “anu,,,, uang semesteran, daftar ulang” dia melanjutkan masih
dengan nada tinggi “berapa biaya
heregistrasinya ? tanggal berapa terakhir” aku pun menjawab dengan nada
melemah “600 ribu, tanggal 28 juli”
dia mengakhiri obrolannya “ow iyora (ow,
iya dah dalam bahasa bima, NTB)” masih dengan suara lantang.
Dia
mengakhiri pembicaraannya tanpa salam pembuka maupun penutup, menurutku itu
bukan pembicaraan pantas, melainkan tanya jawab pintas. yach emang tanya jawab
pintas yang membuat aku sakit hati dan bertanya dalam diri “apa salahku, hingga
dia melantangkan suaranya”, aku merasa bagai di marahi langsung oleh Tuhan,
mengapa tidak, suara itu adalah suara yang telah lama ku kenal semenjak aku di
lahirkan hingga aku berada di rantauan sekarang. suara hatiku masih menggumam “apa dia tak pernah mengerti aku ? apa aku
selalu menyusahkannya dari dulu hingga saat ini ? aku tak mengerti mengapa ini
terjadi ? biasanya dia bersuara lembut dan tegas, tapi kali ini apa yang
kurasakan telah melukai hatiku” aku berdoa di dalam hati “ya Allah ya Tuhanku berilah aku keikhlasan
dan ketabahan dalam menghadapi semua ini”.
Aku
bergegas ke belakang untuk berwudlhu’ dan melaksanakan ibadah shalat shubuh di
kamar kecil berukuran 2X3 meter, kupasrahkan diri kepadaNya dan memulai bacaan
istigfar selesai shalat sebagai awal dzikir bagiku, ku lanjutkan dalam hening
doa bercahayakan lampu kuning di atas kepala, mengawali dengan memuji_Nya dan
memohon ampun kepada_Nya “ya Allah, apakah ini syarat_Mu untukku, maka berilah
aku keikhlasan dan ketulusan hati, amien….” menutupnya dengan mengharapkan
keselamatan dunia dan akhirat atas Kuasa_Nya, amien ya Rabbal alamin.
Terasa
seperti hantaman ombak di pagi buta, itulah kesedihan yang aku rasakan disaat
aku kembali terseret di tumpukan kapas beralas membuat sekujur tubuh memanas
dan kepala, kaki tangan bagai berada di dalam lapas, ku tebarkan seluruh
keadaan hati yang terkibas melewati jari-jemari di atas, mengisi lembaran putih
yang terlintas, tak peduli hati mulai mengeras.
Matahari
menunjukkan dirinya diluar sana, aku belum terperanjak dari baringanku dengan
dua telapak tangan di atas kepala, aku bingung apa yang harus aku lakukan di
pagi ini, aku terpaku di sini semenjak ujian akhir semester bubar kurang lebih
tiga minggu yang lalu, tak tahu apa yang harus aku lakukan biasanya aku main
playstation di komputer untuk menghilangkan kebosanan dan kejenuhan, karena
stiknya telah rusak, aku mulai merasa jenuh berkepanjangan, gak tahu apa ini
bisa bertahan soalnya itu hobby aku semenjak aku masih di bangku Sekolah Dasar,
Cuma bedanya dulu masih menyewa di rental, dan rela bolos sekolah saat SMA
gara-gara kebelet main PS2 di samping gang sekolah padahal aku sebagai ketua
kelas harus bertanggung jawab atas teman-teman sekelasnya bila tak gurunya tak
datang waktu itu.
Bener-bener
tak bisa beranjak kemana-mana, mau beli stik duit tinggal 200 perak di meja belajar samping komputer, beli apa pun yang
mengenyangkan tak mungkin dapat melainkan dua buah permen, sudah satu hari 200 perak
itu di samping galon, selama seminggu aku hanya makan satu kali sehari kadang
di waktu sore, kadangpula di waktu malam yah itu semua langkah irit, namun tak
juga bisa bertahan sampai akhir bulan.
Tambah
pula penderitaanku bila aku ingat kembali peristiwa dua minggu yang lalu,
berawal aku beranjak dari kamarku menuju kamar mandi untuk ambil air sembahyang
di waktu maghrib, selama lima menit lamanya aku memasuki kamar, tapi perasaan
ini tak tenang dan heran “mengapa ada
jejak sepatu di kamarku, perasaan ini kan waktu libur tak mungkin ini sepatuku”
kataku sambil terkejut, “ada yang gak
wajar nih, tapi apa ya” ungkapku sambil menatapi kearah jejak sepatu itu,
maklumlah ruangan tempatku berteduh itu, lantainya berkeramik putih. Wajar
kalau jejak sepatu terkena debu bisa kelihatan dan nampak disana. Aku bertanya-tanya
“ada apa ya?” setelah ku sadar dan ku
palingkan pandanganku ke arah komputer tepatnya di samping bawah komputer “Ya Allah mengapa ini terjadi?” HP dan
dompetku raib di ambil pencuri gelandangan yang tak bermoral dan tak
berperasaan, “padahal uangnya hanya
45.000 rupiah” tapi yang tak dapat saya terima kehilangan semua yang
berharga dan surat-surat penting di dalam dompet (KTP, KTM, ATM, SIM, Surat
keterangan pembayaran kost, dsb), “lenyap
sudah, dasar pencuri kenapa tak ambil uang dan hp saja, kenapa harus bersama
dompetnya” makiku terhadap pencuri yang tak tahu dimana dia buang dompetku.
Ini
bukan pertama kali aku kehilangan sesuatu. Hp yang pertama kali aku miliki
jatuh ditengah jalan dan setelah ku cari lagi hpku telah menghilang tanpa
jejak, yang kedua aku kehilangan sepedaku setelah memasuki masjid al-iman
Ambarukmo untuk shalat berjemaah di waktu dzuhur dan ini merupakan yang ketiga
dengan kehilangan kedua barang secara serenatak, nasib ya nasib…… Aku telah
mengikhlaskannya, aku yakin Allah punya tujuan tertentu bagiku, maka di setiap
doaku tak lupa aku berdoa untuk diberi ketulusan, kejujuran, ketabahan hati
serta keikhlasan dalam menjalani hidup.
Hari
ini perut terasa kenyang walaupun sebenarnya kering kerontang aku telah
berjanji untuk puasa hari ini, entah puasa apa namanya tepatnya puasa 200
perak, kedengarannya lucu, ya emang inilah adanya tak tahu apa yang diperbuat
oleh 200 perak ini untuk berbuka entar maghrib, aku berharap ada keajaiban
datang, siapa tahu !.
Kemarin
makan nasi tempe sebagai sahurnya di waktu siang sepulangku dari jumatan,
kebetulan masih sisa 3.000 rupiah dalam himpitan baju di lemari untuk makan,
dan 200 perak di pojok atas lemari yang kupindah keatas meja belajar sampai
sekarang masih kupandangi dia, dia terus ku pandangi karena hanya 200 perak itu
yang luput dari pandangan pencuri, sebagai saksi bisu kepergian sahabantnya,
sekarang aku hanya bisa tersenyum, orang tuaku entah menyayangiku atau tidak,
sehingga tiada pergerakan hatinya untuk mengirimiku uang ala kadarnya saja.
mana
mungkin aku bisa pulang kampung dengan 200 perak
mana
mungkin aku bisa bukaan buat puasa dengan 200 perak
mana
mungkin aku bisa menyalin ceritaku ini dengan 200 perak
200
perak ini hanya mungkin kupandangi terus menerus
Aku
bisa saja berkhayal dengan 200 perak itu sebagai orang kaya, andaiakan aku
hidup di dzaman penjajahan bahkan purbakala sekaligus, tapi apa semua itu
berlaku di masa itu sedangkan alat penukarnya masih barteran dan setelah itu
alat penukarannya adalah uang yang masih memakai logam berbolong di tengahnya,
layaknya film laga yang sering aku lihat dulu di layar kaca waktu SD, seperti
kisah Wiro Sableng maupun Dendam Nyi Pelet.
ya
sudahlah, seperti penggalan nyanyian bondan prakoso &
fade to black…..
mungkinkah,
sebagaimana yang sering di lantunkan oleh andre taulany di OVJ
kita
lihat aja nanti, layaknya ungkapakan adelia dan rosyid
di ujung kisah 3 Hati 2 Dunia 1 cinta
200 perak pun jadi
renungan, ya itulah kata tepat untukku saat ini.
by. Miftah Ranggaloa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar